Menurut OECD, Indonesia dapat meningkatkan ketahanan pangan melalui penanaman modal, perdagangan dan reformasi subsidi

 

10/10/2012 - Menurut laporan terbaru OECD, Indonesia dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional dengan memfasilitasi penanaman modal pertanian yang lebih tinggi, membuka lebih luas pasar produk pertanian dalam perdagangan internasional, mereformasi skema subsidi input dan bantuan pangan serta mulai meninggalkan tujuan swasembada pangan.

Kajian Kebijakan Pertanian: Indonesia
(Review of Agricultural policies in Indonesia) mengatakan bahwa mendorong penanaman modal swasta yang berkelanjutan pada sektor pertanian merupakann hal penting guna meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian, memaksimalkan manfaat pembangunan dari sektor pertanian yang kuat, dan mencapai ketahanan pangan.

Menurut laporan yang dipresentasikan hari ini di Jakarta oleh Ken Ash, Direktur Perdagangan dan Pertanian OECD serta Menteri Pertanian Indonesia, Suswono, perhatian Indonesia pada pencapaian ketahanan pangan melalui swasembada adalah salah arah.

Walaupun tingkat kemiskinan di Indonesia telah menurun, pada tahun 2007 jumlah penduduk yang kekurangan gizi diperkirakan mencapai 13%. Kata Ash “Diversifikasi produksi padi dengan komoditas bernilai tinggi, seperti tanaman buah dan sayuran serta tanaman perkebunan telah berkontribusi pada peningkatan penghasilan dan akses pangan bagi banyak rumahtangga tani". Ash menambah "Dimungkinkan kemajuan lebih lanjut menuju arah tersebut”.

OECD menyebutkan, proteksi terhadap impor menghambat daya saing sektor pertanian, membatasi pertumbuhan produktivitas pertanian, dan meningkatkan biaya pangan untuk konsumen miskin, termasuk mayoritas petani, yang merupakan pembeli neto (net buyer) bahan pangan pokok. Kebijakan non-tarif yang lebih terbuka akan mendorong perdagangan dan memungkinkan konsumen Indonesia mengakses pangan di pasar internasional dengan lebih baik.


Indonesia’s agro-food trade, 1990-2010


‌Download the underlying data in Excel


Indonesia merupakan negara produsen produk pertanian kesepuluh terbesar di dunia: sektor pertanian menyumbang 15% terhadap PDB dan 38% terhadap lapangan kerja. Dalam laporannya, OECD menemukan bahwa selain dari peningkatan yang tajam penanaman modal swasta untuk kelapa sawit dan biofuel sejak 2010 dan mengingat peran pentingnya dalam ekonomi, pertanian Indonesia telah mengalami dampak negatif dari tingkat penanaman modal yang rendah. Rendahnya penanaman modal dapat diatasi dengan mempercepat registrasi lahan dan menyederhanakan sistem kepemilikan lahan; memperbaiki infrastruktur utama seperti irigasi dan listrik; memfasilitasi akses kredit; dan mengurangi pajak ekspor CPO dan biji kakao.

Selama periode 2006-10, dukungan pemerintah kepada sektor pertanian yang diukur dengan Producer Support Estimate (PSE) rata-rata mencapai 9% dari total nilai produksi yang diterima petani, lebih rendah dari rata-rata negara anggota OECD. Laporan ini mengusulkan reformasi yang dapat memperbaiki efisiensi dukungan untuk petani maupun konsumen miskin.

Subsidi pupuk yang berbiaya tinggi dapat diganti dengan skema kupon, sedangkan program Raskin (beras untuk penduduk miskin) dapat diganti dengan program bantuan tunai bersyarat yang memberikan lebih banyak pilihan bagi rumahtangga miskin serta mengurangi ketergantungan kepada beras.

Indonesia juga dapat melakukan:

  • Peningkatan anggaran penelitian dan pengembangan (Litbang), termasuk jasa bimbingan dan penyuluhan.

  • Perbaikan ketersediaan pasokan air bagi petani, termasuk pengeluaran untuk irigasi yang lebih besar.

  • Penyusunan strategi jangka panjang untuk restrukturisasi usahatani.

  • Penganekaragaman sumber pembiayaan untuk usaha di pedesaan, dengan memperluas cakupan Biro Kredit dan Sistem Informasi Peminjam.

  • Perbaikan peraturan perundang-undangan tentang perlindungan lingkungan dan kehutanan, serta mengkaji ulang aspek perekonomian dan lingkungan dalam kebijakan biofuel.

  • Perbaikan tata kelola kebijakan di sector pertanian dan keterbukaan anggaran.


Untuk informasi lebih lanjut, kalangan media dapat menghubungi  Andrzej Kwieciński, Senior Agricultural Policy Analyst, Development Division, OECD Trade and Agriculture Directorate (mobile: +33 6 2456 0120) atau Kantor Pers OECD (news.contact@oecd.org; +33  1 4524 9700).

 

 

 

Also Available

Countries list

  • Afghanistan
  • Afrique du Sud
  • Albanie
  • Algérie
  • Allemagne
  • Andorre
  • Angola
  • Anguilla
  • Antigua-et-Barbuda
  • Antilles Néerlandaises
  • Arabie Saoudite
  • Argentine
  • Arménie
  • Aruba
  • Australie
  • Autorité Nationale Palestinienne
  • Autriche
  • Azerbaïdjan
  • Bahamas
  • Bahreïn
  • Bangladesh
  • Barbade
  • Belgique
  • Belize
  • Bermudes
  • Bhoutan
  • Bolivie
  • Bosnie-Herzégovine
  • Botswana
  • Brunéi Darussalam
  • Brésil
  • Bulgarie
  • Burkina Faso
  • Burundi
  • Bélarus
  • Bénin
  • Cambodge
  • Cameroun
  • Canada
  • Cap-Vert
  • Caïmanes, Îles
  • Centrafricaine, République
  • Chili
  • Chine (République populaire de)
  • Chypre
  • Colombie
  • Comores
  • Congo, La République Démocratique du
  • Corée
  • Corée, République Populaire Démocratique de
  • Costa Rica
  • Croatie
  • Cuba
  • Côte D'ivoire
  • Danemark
  • Djibouti
  • Dominicaine, République
  • Dominique
  • Egypte
  • El Salvador
  • Emirats Arabes Unis
  • Equateur
  • Erythrée
  • Espagne
  • Estonie
  • Etats Fédérés de Micronésie
  • Etats-Unis
  • Ethiopie
  • ex-République yougouslave de Macédoine (ERYM)
  • Fidji
  • Finlande
  • France
  • Gabon
  • Gambie
  • Ghana
  • Gibraltar
  • Grenade
  • Groenland
  • Grèce
  • Guatemala
  • Guernesey
  • Guinée Équatoriale
  • Guinée-Bissau
  • Guinéee
  • Guyana
  • Guyane Française
  • Géorgie
  • Haïti
  • Honduras
  • Hong Kong, Chine
  • Hongrie
  • Ile de Man
  • Ile Maurice
  • Iles Cook
  • Iles Féroé
  • Iles Marshall
  • Iles Vierges Britanniques
  • Iles Vierges des États-Unis
  • Inde
  • Indonésie
  • Iraq
  • Irlande
  • Islande
  • Israël
  • Italie
  • Jamaïque
  • Japon
  • Jersey
  • Jordanie
  • Kazakstan
  • Kenya
  • Kirghizistan
  • Kiribati
  • Koweït
  • l'Union européenne
  • Lao, République Démocratique Populaire
  • le Taipei chinois
  • Lesotho
  • Lettonie
  • Liban
  • Libye
  • Libéria
  • Liechtenstein
  • Lituanie
  • Luxembourg
  • Macao
  • Madagascar
  • Malaisie
  • Malawi
  • Maldives
  • Mali
  • Malte
  • Maroc
  • Mauritanie
  • Mayotte
  • Mexique
  • Moldova
  • Monaco
  • Mongolie
  • Montserrat
  • Monténégro
  • Mozambique
  • Myanmar
  • Namibie
  • Nauru
  • Nicaragua
  • Niger
  • Nigéria
  • Nioué
  • Norvège
  • Nouvelle-Zélande
  • Népal
  • Oman
  • Ouganda
  • Ouzbékistan
  • Pakistan
  • Palaos
  • Panama
  • Papouasie-Nouvelle-Guinée
  • Paraguay
  • Pays-Bas
  • Philippines
  • Pologne
  • Porto Rico
  • Portugal
  • Pérou
  • Qatar
  • Roumanie
  • Royaume-Uni
  • Russie, Fédération de
  • Rwanda
  • République du Congo
  • République Islamique d' Iran
  • République Tchèque
  • Sahara Occidental
  • Saint-Kitts-et-Nevis
  • Saint-Marin
  • Saint-Vincent-et-les Grenadines
  • Sainte-Hélène
  • Sainte-Lucie
  • Salomon, Îles
  • Samoa
  • Sao Tomé-et-Principe
  • Serbie
  • Serbie et Monténégro (avant juin 2006)
  • Seychelles
  • Sierra Leone
  • Singapour
  • Slovaquie
  • Slovénie
  • Somalie
  • Soudan
  • Soudan du Sud
  • Sri Lanka
  • Suisse
  • Suriname
  • Suède
  • Swaziland
  • Syrienne, République Arabe
  • Sénégal
  • Tadjikistan
  • Tanzanie
  • Tchad
  • Thaïlande
  • Timor-Leste (Timor Oriental)
  • Togo
  • Tokelau
  • Tonga
  • Trinité-et-Tobago
  • Tunisie
  • Turkménistan
  • Turks et Caïques, Îles
  • Turquie
  • Tuvalu
  • Ukraine
  • Uruguay
  • Vanuatu
  • Venezuela
  • Viêt Nam
  • Wallis et Futuna
  • Yémen
  • Zambie
  • Zimbabwe